Film ini bermula dari sebuah kapal yang merapat di pantai Papua — membawa ratusan alat berat
untuk proyek strategis nasional. Atas nama ketahanan pangan dan
transisi energi, sekitar 2,5 juta hektar hutan Papua akan dikonversi menjadi
perkebunan kelapa sawit dan bioetanol tebu — salah satu deforestasi terbesar dalam sejarah modern.
Di balik angka proyek, Pesta Babi memotret wajah manusia yang paling terdampak:
suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu — masyarakat adat yang hidupnya tak terpisahkan dari
hutan dan tanah leluhur di Papua Selatan. Film merekam ritual adat, kesaksian warga,
dan bentuk perlawanan yang lahir dari keputusasaan.
"Jika tanah adat dan hutan adat hilang, kami mau hidup di mana?"
Judul Pesta Babi diambil dari ritual budaya Muyu — simbol perdamaian,
hubungan sosial, dan identitas adat. Film ini telah memantik diskusi publik dari Sydney
hingga Berlin, sekaligus menuai kontroversi setelah sejumlah nobar dibubarkan oleh aparat
di berbagai daerah Indonesia.